"Aksi kejar-kejaran sejumlah rakit PETI di picu atas keresahan warga terhadap aktivitas tambang ilegal yang dinilai telah merusak lingkungan dan melanggar aturan adat setempat," ujar salah seorang warga Puntikalo, Muslim.
" Kekesalan warga memuncak lantaran sejumlah rakit telah memasuki wilayah desa Puntikalo. Menurut Muslim, lokasi penambangan berada di kawasan yang secara turun-temurun adalah wilayah desa Puntikalo dekat dengan perbatasan desa Teluk Langkap tidak di perbolehkan untuk aktivitas dompeng.
Dikatakan Muslim, dari zaman nenek moyang kami, kawasan itu tidak boleh di tambang. Siapa pun tidak diperbolehkan untuk aktivitas dompeng di sana.
Sementara itu sesaat sebelum insiden terjadinya pembakaran, warga mengaku telah memperingati ke para pekerja PETI untuk menghentikan aktivitasnya namun tak di indahkan hingga memicu amarah warga.
Spontan warga mengejar setidaknya ada lima buah rakit yang berada di sungai, sementara dari lima rakit satu buah dan pekerjanya berhasil di amankan warga. Tak cukup sampai disitu, satu buah rakit dompeng dibakar warga sebagai bentuk penolakan tegas dan pelampiasan terhadap aktivitas PETI di wilayah Punti Kalo.
Reporter
ARDI
