Jumat, 14 November 2025
Kamis, 23 Oktober 2025
Pertambangan Tanpa Izin, Aktivis Ini Bilang: Masyarakat Harus Diberi Perlindungan dan Solusi Hidup Layak
Aktivis lingkungan Lebak, Ahmad Rohani/foto: dok Ahmad Abdulrohim
LEBAKBANTEN,DUASATU.NET- Aktivis lingkungan asal Lebak, Ahmad Rohani, angkat bicara terkait maraknya aktivitas tambang tanpa izin di wilayah selatan Banten. Ia menegaskan bahwa penegakan hukum tidak boleh hanya bersifat represif, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan perlindungan terhadap masyarakat kecil.
“Boro-boro untuk mengurus izin, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah sulit,” ujarnya, Rabu (22/10/2025).
Menurut Rohani, banyak warga yang menambang bukan karena niat melanggar hukum, melainkan karena desakan ekonomi. Karena itu, pemerintah seharusnya hadir memberikan penyuluhan, pendampingan, dan alternatif mata pencaharian, bukan sekadar melarang.
“Kalau tambang rakyat dilarang, maka harus ada solusi kehidupan lain. Jangan hukum justru membuat orang terlantar. Hukum seharusnya melindungi rakyat, bukan menyesatkannya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah membedakan antara investor besar dan penambang tradisional, sebab masyarakat kelas bawah sering kali tak mampu mengurus perizinan yang rumit dan mahal.
“Presiden kita sudah bilang, rakyat jangan dipersulit. Maka negara harus hadir agar masyarakat tetap bisa hidup layak tanpa terbebani aturan yang tidak berpihak,” pungkas Rohani. (AHMAD ABDULROHIM)
Selasa, 07 Oktober 2025
Aktivis Lebak Ini Sesalkan Sikap Oknum Guru Halangi Tugas Wartawan dan LSM
Foto: dok A Abdulrohim
Selasa, 23 September 2025
Pemprov dan Perusahaan Tambang Bicara Jalan Khusus Dalam Diskusi Bersama SMSI Jambi
Foto: dok SMSI Prov Jambi
JAMBI,DUASATU.NET- Seminar dan diskusi yang digelar oleh Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Jambi pada Senin (22/9/2025) tidak hanya membahas terkait Digital Marketing, SEO dan Kecerdasan Buatan (AI) saja.
Akan tetapi, pada sesi ke-2, SMSI Jambi sengaja mengangkat tema yang cukup menarik terkait Manfaat Jalan Khusus Batu Bara Jambi.
Acara dipandu oleh moderator Pirma Satria, Pemred Jambi Ekspres yang juga sekretaris SMSI Jambi, dihadiri Ketua SMSI Mukhtadi Putra Nusa, para pengurus dan sejumlah pemimpin redaksi dan jurnalis media siber di Jambi.
Diskusi ini mengundang narasumber dari perwakilan pemerintah yaitu Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Jambi Johansyah, dan Direktur Utama perusahaan tambang yang sedang membangun jalan khusus PT Sinar Anugerah Sukses, Ridony Gurning.
Dalam diskusi ini, Johansyah mengatakan ada tiga investor yang telah menyatakan komitmen membangun jalan khusus batu bara di Jambi yaitu PT Sinar Anugerah Sukses (PT SAS) sepanjang 108 kilometer, PT Putra Bulian Properti (PT PBP) Sepanjang 105 kilometer dan PT Inti Bangun Sarana (IBS) sepanjang 101 kilometer.
Pemerintah katanya harus melibatkan pihak swasta karena dana yang dibutuhkan untuk membuat jalur logistik tambang itu tidak lah murah. “Jika ditotal semua bisa lebih dari Rp 4 Triliun, kita (APBD) tidak mungkin sanggup,” kata Johansyah.
Di sisi lain, apabila jalan khusus tak juga selesai, maka berbagai dampak ‘akan’ bahkan ‘telah’ terjadi. Ia mencontohkan Dana Bagi Hasil (DBH) Minerba untuk Jambi terus menurun selama 2023-2024 seiring produksi batu bara Jambi yang tak mencapai target, salah satunya akibat masalah transportasi.
Belum lagi, pemerintah dan masyarakat harus menghadapi kerusakan infrastruktur yang tak terbendung akibat truk batu bara yang masih menggunakan jalan umum, angka kecelakaan yang tinggi, keresahan dan gangguan sosial dan dampak ekonomi lainnya.
Sejauh mana mana progres jalan khusus di Provinsi Jambi? Johansyah menjawab sekarang ada dua perusahaan yaitu PT IBS dan PT SAS yang menunjukkan progres. Meski memiliki kendalanya masing-masingm dua perusahaan ini telah mengantongi izin. Sementara itu, PT PBP progresnya terbilang belum terlalu menggembirakan karena juga menghadapi beberapa persoalan di lapangan, termasuk pembebasan lahan.
*Komitmen Perusahaan Tambang*
Lantas bagaimana dengan komitmen investor? Ridony Gurning, Dirut PT SAS, sebuah perusahaan tambang batu bara yang kini sedang membangun jalan khusus, mengaku masih memegang komitmen untuk menyelesaikan jalur logistik mereka sepanjang 108 kilometer dari Sarolangun hingga ke Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS).
Memang sempat ada beberapa faktor dan kendala di masa lalu sejak mengantongi izin tahun 2015, namun di masa manajemen yang sekarang, infrastktur jalan khusus PT SAS terus menunjukkan progres yang signifikan. “Pada prinsipnya, kita tetap pada komitmen membuat jalur logistik demi keberlangsungan bisnis ini,” kata Ridony.
Diakuinya memang tak semua perusahaan tambang berani membangun jalurnya sendiri, namun PT SAS tak ingin terus ‘menumpang’ di jalur publik, menjadi saingan angkutan lain yang membawa hasil pertanian, peternakan, perkebunan. “Kita tak ingin menganggu angkutan yang lain, yang lain harus bayar mahal gara-gara kita, itu tentu tidak boleh,” lanjutnya.
Penyelesaian jalan khusus pasti akan memberi dampak dari sisi bisnis karena terkait dengan kemampuan perusahaan meningkatkan target produksi.Namun dampak domino lain tak bisa pula diabaikan, mulai dari kenaikan pendapatan daerah bersumber dari DBH maupun pajak, hingga peluang kerja bagi masyarakat dan peluang usaha/investasi di sektor terkait lainnya.
Disinggung soal isu lingkungan yang sempat mendera PT SAS di kawasan Aur Kenali. Ridony memastikan semua telah dirancang sedemikian rupa dengan rekayasa teknologi terbaik. Salah satunya proses crushing batu bara, sebagai sumber utama debu dan kebisingan, ditiadakan di lokasi TUKS PT SAS. “Kita lakukan (crushing) di tempat dimana masyarakat tidak ada, di area tambang sana, kalau mau ini (jalan khusus) terwujud, ya pasti kita lakukan segalanya (antisipiasi dampak lingkungan),” lanjut Ridony.
Alumni Teknik Pertambangan ITB ini juga menanggapi pertanyaan peserta diskusi terkait aktivitas pekerjaan underpass jalan khusus di Aur Kenali yang kini dihentikan. “Sepenuhnya itu adalah keputusan Gubernur yang tentu kami hormati, jika ditanya apa yang PT SAS lakukan? Kami juga menunggu arahan lanjutan dari pemerintah, sesuai keputusan terakhir saat dialog bersama warga di Rumah Dinas Walikota,” jawab Ridony.
Terpisah, Ketua SMSI Jambi Mukhtadi Putra Nusa usai acara diskusi, mengucapkan terimakasih kepada semua narasumber yang hadir hari ini. “Kita sempat berpikir mereka (PT SAS) tidak akan hadir, karena panitia mengirim undangan untuk menjadi narasumber hari ini, sebelum keluar keputusan penutupan aktivitas di Aur Kenali Selasa lalu, tapi ternyata hari ini beliau tetap hadir dan kami sangat mengapresiasi hal tersebut,” ujar Mukhtadi.
Ia juga mengucapkan terimakasih kepada Johansyah yang telah memaparkan data-data terupdate terkait bisnis tambang batu bara di Provinsi Jambi, termasuk progres jalan khusus yang kini jadi kosentrasi pemerintah untuk segera diselesaikan, guna mendorong investasi yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan di Provinsi Jambi. (*)
Ketua SMSI Provinsi Jambi Mukhtadi Buka Seminar dan Launching Website Keanggotaan SMSI
Ketua SMSI Provinsi Jambi Mukhtadi Putranusa/foto: dok SMSI Prov Jambi
Website Keanggotaan Dilaunching : Wujud Komitmen SMSI Jambi Bangun Ekosistem Media yang Lebih Tertata
JAMBI,DUASATU.NET- Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Jambi kembali mengadakan kegiatan penting untuk edukasi insan pers di Jambi. Pada Senin (22/9/2025) digelar Seminar dengan tajuk Peningkatan Kapasitas dan Peran Strategis Media Siber Dalam Pembangunan Provinsi Jambi.
Tak hanya itu, terdapat dua rangkaian acara penting yakni Pengukuhan Forum Pemred SMSI Jambi dan Launching Website keanggotaan SMSI Provinsi Jambi.
Ketua SMSI Provinsi Jambi Mukhtadi Putranusa menyampaikan hari ini adalah momentum bersejarah bagi SMSI Jambi.
"Kita tidak hanya mengukuhkan forum para pemimpin redaksi, tetapi juga membuktikan bahwa SMSI terus bergerak, beradaptasi, dan menghadirkan inovasi di tengah perkembangan media yang semakin dinamis, "sebut Mukhtadi.
Forum Pemred akan menjadi ruang silaturahmi, bertukar gagasan, sekaligus memperkuat posisi media siber di Jambi agar lebih profesional, berimbang, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Mukhtadi juga menyadari, tantangan media hari ini bukan hanya soal kecepatan informasi, tetapi juga bagaimana menjaga kredibilitas dan keberlangsungan usaha media.
"Karena itu, pelatihan pengembangan kapasitas yang kita adakan bersama trainer berpengalaman merupakan langkah nyata SMSI dalam meningkatkan kualitas anggota, baik dari sisi manajerial, konten, maupun pemanfaatan teknologi digital, " sebut pria yang memenangkan Press Card Number One PWI ini.
Pada kesempatan ini diadakan dialog mengenai pembangunan jalan khusus batubara. Sebagai insan pers, media punya peran strategis untuk menyampaikan informasi yang jernih, mengedukasi masyarakat, sekaligus menjadi mitra kritis dan konstruktif bagi pemerintah dan pelaku usaha.
"Jalan khusus batubara bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut hajat hidup masyarakat Jambi, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan," sebutnya.
Masih kata Mukhtadi, yang tidak kalah penting, hari ini juga diluncurkan Website Keanggotaan SMSI.
"Platform ini adalah wujud komitmen SMSI Jambi dalam membangun ekosistem media yang lebih tertata, transparan, dan terverifikasi. Dengan adanya website ini, keanggotaan SMSI dapat lebih mudah diakses, diverifikasi, dan tentu semakin memperkuat integritas organisasi kita, "tuturnya.
Adapun seminar pada termin pertama menghadirkan praktisi Media CEO-Co-Founder ProPS Ilona Juwita. Lalu dilanjutkan pada termin kedua oleh Asisten II Setda Provinsi Jambi Johansyah terkait manfaat pembangunan jalan khusus batu bara bagi Provinsi Jambi.
Sebelumnya, Ketua Panitia Pelaksana Seminar SMSI Provinsi Jambi Nanang Meiriadi berharap dengan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara ini, khususnya kepada para peserta yang hadir, baik pemilik media maupun jurnalis.
"Semoga langkah kecil yang kita lakukan hari ini akan memberi dampak besar di masa depan, " sampai Nanang. (*)
Sabtu, 16 Agustus 2025
Sambut HUT RI Ke-80, DPC Partai Gerindra Tebo Bagikan Bendera Merah Putih Ke Warga dan Pengendara
Sabtu, 09 Agustus 2025
Bakal Siapkan Big Data, SMSI Jambi Verifikasi Ulang Keanggotaan Berbasis Technologi Terkini
Pengurus SMSI Provinsi Jambi/foto: dok SMSI Jambi
JAMBI,DUASATU.NET- Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Jambi terus membuat terobosan-terobosan untuk kemajuan dan kematangan organisasi. Dalam rapat dan pertemuan rutin, Jumat (8/8) di Soto Betawi Adjib Jambi, Mayang Ujung, beberapa ide muncul dalam kongko-kongko ala SMSI tersebut. Apa itu?
Diantaranya akan mendata dan mem-verifikasi ulang keanggotaan SMSI dengan technologi digital terkini untuk mempermudahkan masyarakat dan mitra kerja bisa melihat dan menyimak anggota SMSI diseluruh kabupaten kota.
‘’Ini yang harus kita lakukan, sehingga masyarakat atau mitra kerja bisa melihat dan memantau langsung keanggota SMSI yang ada di provinsi Jambi, mana yang aktif dan mana yang tidak aktif. Sehingga anggota yang tergabung di SMSI tak tersentuh dengan kata "media abal-abal," kata Mukhtadi Putranusa, Ketua SMSI Jambi.
Selain itu, jelas Mukhtadi, ini bagian dari cara SMSI untuk menunjukkan kematangan organisasi, membawa para anggota menuju media yang benar-benar profesional.
SMSI dengan technologi digital ini akan diluncurkan pada Sepetember 2025 nanti. Dalam peluncuran itu juga disertai dengan seminar semi pelatihan yang bertajuk "Memanfaatkan technologi untuk kemajuan perusahaan media".
Selain dua agenda tersebut juga disepakati rencana kunjungan ke Hongkong-Macau dan Shenzen yang semula apa awal September ditunda dengan berbagai pertimbangan, diantaranya mengikuti kampanye pemerintah untuk berhemat dan mengencangkan ikat pinggang menunda dulu berpergian ke luar negeri.
Meskipun demikian, kata Mukhtadi untuk pengganti penundaan itu maka pengurus SMSI akan menggantikan dengan wawasan lingkungan dan cinta alam yang asri yakni dengan cara wisata ke Kabutaten Kerinci.
Sementara itu, Sekeretaris SMSI Jambi, Pipin menyampaikan SMSI juga akan mengaktifkan Sayap Organisasi SMSI yakni Forum Pimred, karena kepengurusan forum Pimred belum sepenuhnya terisi dan antinya juga akan dikukuhkan di tengah acara peluncuran SMSI tekhnologi Digital tersebut.
Sebelum melakukan rapat, pengurus SMSI Provinsi Jambi juga melakukan diskusi dengan anggota DPD RI Sum Indra. (REDAKSI)
Jumat, 01 Agustus 2025
Dari Hulu ke Hilir: Saatnya Jambi Menjadi Pusat Industri Bernilai Tambah
Oleh: Yulfi Alfikri Noer S. IP., M.APAkademisi UIN STS Jambi
JAMBI,DUASATU.NET- Infrastruktur Hilirisasi: Kunci Masa Depan Komoditas JambiP Provinsi Jambi bukan hanya dianugerahi kekayaan alam yang melimpah, tetapi juga posisi geografis yang strategis dalam konektivitas ekonomi Sumatra. Di atas tanahnya tumbuh subur komoditas unggulan seperti kelapa sawit, karet, kelapa, kopi, coklat dan pinang yang menyerap ratusan ribu tenaga kerja.
Di bawah perut buminya, terpendam cadangan batubara dalam jumlah besar yang menjadikan Jambi sebagai kontributor signifikan dalam penyediaan energi nasional.
Namun demikian, kekayaan ini belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kemakmuran yang berkelanjutan. Jambi masih terjebak dalam paradoks daerah penghasil: ekspor bahan mentah, impor barang jadi, dan menyaksikan nilai tambah dinikmati oleh daerah atau negara lain.
Di sinilah urgensi hilirisasi muncul sebagai solusi strategis. Hilirisasi bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan keniscayaan dalam menjawab stagnasi ekonomi berbasis ekstraksi.
Namun, hilirisasi tidak bisa berdiri sendiri. Upaya ini memerlukan prasyarat utama yang menjadi fondasi: infrastruktur yang bukan sekadar fisik, tetapi juga mencakup sistem logistik, energi, konektivitas digital, kelembagaan, dan sumber daya manusia.
Potensi Komoditas dan Nilai Tambah yang Belum Optimal
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada tahun 2023, Jambi memiliki lebih dari 1 juta hektare lahan sawit dengan produksi CPO sekitar 3,7 juta ton. Produksi karet mencapai 553.823 ton dari lebih 600 ribu hektare lahan. Sementara batubara tetap menjadi primadona ekspor dengan capaian 11,5 juta ton per tahun.
Komoditas kelapa dan pinang di wilayah pesisir seperti Tanjung Jabung Barat juga menunjukkan tren positif, dengan luas lahan kelapa lebih dari 60 ribu hektare dan pinang mencapai 19.217 hektare yang sebagian besar diekspor ke India dan Timur Tengah. Selain itu, komoditas perkebunan seperti kopi dan coklat turut memperkuat struktur agrikultur Jambi, terutama di wilayah dataran tinggi seperti Kerinci dan Merangin, meskipun kontribusinya terhadap ekspor masih relatif kecil dibandingkan komoditas utama lainnya (opendata.jambiprov.go.id.).
Namun sebagian besar dari kekayaan ini masih dijual dalam bentuk bahan mentah, dengan minimnya fasilitas pengolahan lanjutan di dalam wilayah Jambi. Kondisi ini membuat multiplier effect ekonomi daerah sangat terbatas, memperlebar kesenjangan antara potensi dan realisasi kesejahteraan masyarakat.
Kesenjangan Infrastruktur: Realitas Hambatan Hilirisasi
Gagasan hilirisasi tidak akan berjalan tanpa dukungan infrastruktur yang memadai. Jalan produksi, pelabuhan ekspor, kawasan industri, jaringan listrik dan air baku, hingga infrastruktur digital adalah elemen vital. Saat ini, dari total 1.270 km jalan provinsi, hanya sekitar 68 persen dalam kondisi mantap (Dinas PUPR Provinsi Jambi, 2024). Kondisi jalan yang belum optimal berdampak langsung pada biaya logistik, keterlambatan distribusi, dan rendahnya efisiensi produksi sektor hilir.
Gubernur Jambi, Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H., dalam sidang DPRD pada 29 Juli 2025 menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jambi dalam satu tahun terakhir dan beberapa tahun ke depan mengutamakan pembangunan infrastruktur ke sentra-sentra produksi unggulan di kabupaten/kota. Strategi ini diambil sebagai respons terhadap keterbatasan anggaran, dengan prioritas infrastruktur pada sektor pertanian, perkebunan, industri, dan kawasan perkotaan yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.
Langkah konkret Pemprov terlihat dari dorongan terhadap pengembangan Pelabuhan Ujung Jabung sebagai gerbang ekspor baru, serta Kawasan Industri Kemingking di Muaro Jambi yang dirancang sebagai simpul pengolahan kelapa sawit, karet, kelapa, pinang, dan batubara. Namun, pasokan listrik menjadi hambatan serius.
Kebutuhan energi kawasan industri diperkirakan mencapai 250 MW, sementara kapasitas terpasang baru sekitar 150 MW (PLN UID S2JB, 2023). Keterbatasan ini perlu segera diatasi melalui sinergi lintas sektor dan investasi infrastruktur energi.
Inisiatif Kawasan Industri & Hambatan Energi
Komitmen Provinsi Jambi dalam mendorong hilirisasi komoditas tercermin jelas dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2023–2043, yang menetapkan lima kawasan industri strategis: Ujung Jabung (4.445 hektare), Kemingking (2.639 hektare), Muara Sabak Barat, Lontar Papuyu, dan Taman Rajo. Secara spasial, kawasan-kawasan ini dirancang saling terhubung, membentuk jejaring ekonomi berbasis sumber daya unggulan.
Ujung Jabung diproyeksikan menjadi pusat logistik berbasis pelabuhan samudera, sementara Kemingking disiapkan sebagai sentra hilirisasi industri yang terintegrasi dengan simpul tol dan kedekatannya dengan Kota Jambi.
Namun demikian, terdapat kesenjangan yang signifikan antara rencana di atas kertas dan realisasi di lapangan. Banyak fasilitas dasar seperti jalan kolektor primer, pelabuhan pengumpul, dan jaringan transmisi listrik dan pengolahan limbah B3 masih dalam tahap perencanaan jangka menengah. Selain itu, persoalan klasik seperti status lahan yang belum tuntas, tumpang tindih peruntukan ruang, serta potensi konflik sosial akibat minimnya partisipasi masyarakat lokal menjadi ancaman laten yang perlu diantisipasi sejak dini.
Salah satu isu krusial adalah konektivitas antarwilayah, yang menjadi prasyarat mutlak bagi berfungsinya kawasan industri. Rencana pembangunan jalan tol Jambi–Rengat dan jalur kereta logistik Muaro Jambi–Ujung Jabung merupakan inisiatif strategis yang perlu segera direalisasikan. Tanpa dukungan infrastruktur konektivitas yang solid, efisiensi logistik akan terganggu, dan daya saing kawasan industri terancam stagnan.
Pengembangan Pelabuhan Ujung Jabung dan Kawasan Industri Kemingking diharapkan dapat menjadi katalis hilirisasi komoditas unggulan Jambi, mulai dari kelapa sawit, karet, kelapa, pinang, hingga batubara ke dalam industri bernilai tambah tinggi.
Namun hambatan tak hanya bersifat spasial dan legal-formal; persoalan energi juga menjadi tantangan utama. Kebutuhan daya kawasan industri diperkirakan mencapai 250 megawatt (MW), sementara pasokan listrik aktual di wilayah ini baru berkisar 150 MW, sebuah defisit yang menghambat masuknya investasi hilir secara signifikan (opendata.jambiprov.go.id).
Padahal secara agregat, PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu (UID S2JB) mencatatkan kapasitas daya sebesar 3.673 MW pada pertengahan 2025, dengan beban puncak siang hari sekitar 1.247 MW, malam hari 1.537 MW, dan cadangan daya mencapai 1.137 MW (antaranews.com). Sayangnya, distribusi daya masih belum merata dan belum diarahkan secara prioritas untuk mendukung kawasan industri yang sedang tumbuh. Namun pengembangan kawasan industri tidak bisa dilepaskan dari dimensi sosial dan ekologis yang menyertainya.
Rencana Spasial dan Tantangan Implementasi
Transformasi hilirisasi membutuhkan SDM yang adaptif dan siap menghadapi tantangan industrialisasi modern. Namun hingga kini, belum tampak adanya strategi komprehensif dalam membangun politeknik industri, balai latihan kerja (BLK), atau pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan kawasan industri.
Tanpa langkah konkret dalam menyiapkan tenaga kerja lokal, kawasan industri berisiko menjadi enclave ekonomi, yaitu kawasan industri yang tumbuh tertutup dan tidak menyatu dengan lingkungan sosial-ekonomi sekitarnya, sehingga manfaatnya tidak dirasakan langsung oleh masyarakat lokal. Menyerap tenaga kerja dari luar, tanpa memberi dampak signifikan bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat setempat.
Di sisi lain, dampak ekologis dari industrialisasi perlu menjadi perhatian serius. Kawasan seperti Taman Rajo dan Kemingking memiliki sensitivitas tinggi terhadap lingkungan karena berdekatan dengan aliran sungai utama dan jalur pipa energi. Tanpa dokumen AMDAL yang ketat dan pengawasan independen yang kredibel, biaya sosial dan lingkungan dari proses hilirisasi dapat melampaui manfaat ekonominya.
RTRW Provinsi Jambi 2023–2043 telah menetapkan lima kawasan industri strategis:
• Ujung Jabung (~4.445 Ha)
• Kemingking (~2.639 Ha)
• Muara Sabak Barat (~1.407 Ha)
• Lontar Papuyu
• Taman Rajo
Kondisi ini menunjukkan bahwa hilirisasi tidak bisa berdiri sendiri sebagai agenda pembangunan. Ia memerlukan sinergi lintas sektor, keterpaduan antara perencanaan spasial dan kebijakan energi, serta komitmen nyata dalam menuntaskan hambatan dasar yang selama ini menghambat transformasi struktural ekonomi daerah.
Dalam konteks Jambi, keberhasilan industrialisasi tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau peta kawasan industri, tetapi juga oleh keberanian dalam mengeksekusi kebijakan secara progresif dan inklusif.
Oleh karena itu, langkah selanjutnya yang tak kalah penting adalah memastikan bahwa pembangunan infrastruktur disertai dengan tata kelola yang solid, penyediaan SDM yang kompeten, serta keberpihakan terhadap masyarakat lokal. Kawasan industri yang tumbuh seharusnya tidak menjadi enclave, melainkan menjadi jantung pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Dari sinilah, hilirisasi tak lagi menjadi sekadar slogan, melainkan menjadi jalan konkret bagi Jambi untuk naik kelas dari produsen bahan mentah menjadi pusat produksi bernilai tambah tinggi di Sumatra dengan fondasi infrastruktur yang kokoh, terhubung, dan siap menghadapi masa depan.
Penutup: Hilirisasi Membumi, Bukan Sekadar Di Atas Kertas
Jambi berada pada titik kritis transformasi ekonomi. Visi hilirisasi yang tercermin dalam dokumen RPJMD dan RTRW harus dibumikan melalui langkah konkret: percepatan pembangunan infrastruktur dasar, penyelesaian status lahan, penyiapan SDM lokal, serta integrasi antara investasi dan keberlanjutan lingkungan.
Pembangunan kawasan industri tidak boleh hanya menjadi proyek fisik, tetapi harus menjadi katalis perubahan struktural ekonomi rakyat. Dengan tata kelola yang progresif dan inklusif, Jambi berpeluang besar naik kelas bukan sekadar sebagai lumbung komoditas mentah, tapi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis nilai tambah dan daya saing berkelanjutan.
Hilirisasi bukan hanya strategi pembangunan, tetapi fondasi kemandirian ekonomi alternatif dari ekspor mentah. Keberhasilannya sangat bergantung pada:
• Percepatan infrastruktur logistik dan energi
• Penyelesaian status lahan secara adil
• Keterlibatan masyarakat dan pelaku lokal
• Peningkatan SDM berbasis kebutuhan wilayah
• Tata kelola ekologis yang transparan dan inklusif
Dengan komitmen politik yang kuat dan sinergi lintas sektor, Jambi memiliki peluang besar untuk bertransformasi: bukan lagi sebagai lumbung bahan mentah, tetapi sebagai pusat ekonomi hijau bernilai tambah, inklusif, dan berkelanjutan. (ARD)
Kamis, 27 Maret 2025
H-4 Arus Mudik di Jalinsum, Labura Padat Merayap
Kondisi Jalinsum di Kab Labura H-4 lebaran Idul Fitri 1446/2025

















